Jumat, 10 Mei 2013

Surat Untuk Maleec



My Birthday Boy




Setahun yang lalu.....

Bundo sama ayah cek kandungan seperti biasa, kita bertemu lewat USG, kamu bergerak begitu aktif, pemeriksaan USG memperkirakan beratmu sudah 3,3kg. Waktu itu sudah sangat mendekati HPL. Dokter menawarkan untuk induksi dari awal, karena tubuhmu yang sudah lumayan besar, dan si dokter mau keluar kota selama 4 hari. Setelah berpikir dan diskusi dengan ayah, kita mengikuti saran dokter untuk induksi awal, dengan kondisi belum ada pembukaan pada persalinan.

Bundo masuk ruang kamar pada siang hari, deg2an banget waktu bundo mulai diberikan induksi lewat cairan infus, karena sebelumnya bundo belum pernah mendapatkan hal-hal medis, apalagi di infus. Jam 2 siang cairan itu mulai masuk tubuh bundo, selang 3 jam,kontraksi itu mulai terasa, masih berasa kayak kram diwaktu haid. Bundo ma ayah masih becanda2. Bundo membantumu keluar dengan berjalan-jalan di RS.

Jam 8 malem kontraksi mulai kuat, kuat dan makin kuat. Jam 12 malem bundo muntah banyak banget, yang membuat bundo ga percaya diri bisa membantumu lahir kedunia melalui persalinan normal. Sempet memohon ke ayah untuk proses cesar. Tapi Alhamdulillah ayahmu dengan sabarnya mendampingi bundo dan selalu menyemangati bahwa bundo bisa persalinan normal selama tidak ada indikasi medis. Bidan yang observasi juga mengatakan bahwa bundo mampu untuk persalinan normal. Dan setelah di cek pembukaan dalam sudah sampai di bukaan 5. Dan bundo jadi bertekad kuat, sudah setengah jalan ya nak, kita pasti bisa bekerja sama, sama2 saling membantu ya nak.

Jam 1 pagi bundo masuk R.Persalinan untuk observasi lebih intens. Disitu kontraksi makin kuat dan kuat. Yang tanpa bundo sadari bundo bereaksi menggigit, mencakar, dan menggenggam ayah dengan kuat. Tapi ayah terus dampingi bundo, membantu untuk mengatur nafas. Trimakasih ya ayaaah... :*.

Jam 4 dokter kandungannya dateng,cek pembukaan sudah dibukaan 8. Jam 5 cek lagi masih dibukaan 8 yang sebenarnya bukaan sudah lengkap tapi kamu belum mau turun. Tapi bundo tidak dikasih tau bahwa bukaan sudah lengkap, agar masih menunggu kamu turun. Jam 6 cek pembukaan lahir, dibilang masih bukaan 9, padahal sudah lengkap dari waktu sebelumnya.

Ayah dipanggil oleh dokter. Bundo gak tau dokter bilang apa. Jam 6.30 pagi dokter datang dan bilang “kita coba ya bu, untuk persalinan”. Bundo pikir ini waktunya untuk bertemu denganmu. Lega rasanya mendengar itu.
Akibat kelelahan dan energi yang sempet hilang karena bundo sempet muntah, bundo mencoba mengedan dengan sisa tenaga itu. 1 kali....2kali...3kali...masih belum cukup untuk membantumu. Dokter menyemangati lagi, “lebih kuat ya bu..”.... kemudian ngedan yang berikutnya mampu membantumu, rambut dan kepalamu mulai terlihat, akan tetapi kembali bundo tidak kuat. Kepalamu masuk kembali, dokter, bidan pembantu, calon bidan yang sedang praktek,  ayah dan nenek yang mendampingi kecewa layaknya nonton bola yang bolanya sudah hampir sampai gawang ternyata gak gol. Kemudian semua yang ada disitu kembali menyemangati. Dokterpun mengatakan, “ibu harus lebih kuat, ini terakhir karena detak jantung bayi mulai melemah akibat terlalu lama dijalan lahir.” Kemudian bundo mengikuti, mengusahakan, dan memperjuangkan. Dan,,, berhasil,,,pukul 06.50 kamu lahir...samar2 bundo mendengar tangisanmu. Tapi tidak kencang. Bundo sudah terlalu lemah untuk berpikir.

Kamu dibawa untuk dibersihkan. Bundo hanya ingin memelukmu, melihatmu dengan mesra, tapi bundo ga sanggup untuk meminta, hanya pasrah dengan prosedur yang diberikan oleh RS. Sempat meminta mu untuk IMD. Tapi belum diperbolehkan karena darah yang keluar terlalu banyak akibat banyaknya pembuluh darah yang pecah. Untuk proses menjahitnya saja menghabiskan waktu setengah jam. Bundo melihat dokter memakai 2 rollbenang, dan rasanya,,ga usah ditanya.

Selesai proses “mengobras” yang cukup lama. Akhirnya bundo bisa bertemau denganmu. Bentuk kepalamu panjang akibat terlalu lama dijalan lahir. Sedih rasanya telah membuat dirimu menjadi seperti itu. Tapi dokter bilang, “bentuk kepalanya akan kembali normal kok bu”.Lega kembali rasanya mendengarnya. Ditaruhlah kamu di dada bundo. Kita akhirnya berpandangan mesra. Kamu melihat bundo. Yak...kita saling berpandang. Suara bundo menenangkanmu dari tangisanmu. Kamu berusaha untuk IMD. Proses itu belum selesai kamu sudah dibawa kembali oleh bidan karena badanmu yang “membiru”. Lagi-lagi bundo harus menahan kecewa.

Bundo juga kembali ke kamar. Dikatakan oleh mereka bahwa kita bisa ketemu lagi setelah 6 jam observasi. Bundo diminta istirahat dulu. Dan karena pengaruh bius akibat proses “mengobras” yang masih terasa, bundo hanya mengiyakan dah berharap 6 jam itu sebentar.

6 jam kemudian, ayah dipanggil keruangan bayi. Kembalinya ayah mengatakan bahwa nafasmu terlalu cepat, harus diobservasi kembali. Ya Allah,, perjuangan kita belum berakhir nak. Bundo bingung, takut, khawatir, jika terjadi apa2 di kemudian hari yang dikarenakan mungkin kesalahan bundo saat hamil atau saat persalinan. Dan bundo belum boleh mengunjungimu, bertemu denganmu.

Setelah itu, kita bertemu sudah di Ruang Perinatologi, kamu di Incubator dalam kondisi dibantu dengan alat pernafasan. Karena alasan medis pula kemudian kamu di infus untuk diberikan antibiotik. Sedih hati bundo ngeliat kamu belum genap umurmu sehari sudah masuk jarum suntik untuk di Infus. Jika bundo boleh meminta, ingin rasanya ingatan dan memory saat kamu di ruang itu bundo skip. :(. 2 kali dalam sehari bundo mengunjungimu (tiap jam kunjung). Bahkan para helper (tukang dorong kursi roda) hafal bahwa jika jam kunjung dia akan kekamar bundo untuk mengantar bundo ke R. Perina.

Saat itu kamu belum boleh menyusui langsung karena masih dalam observasi. Di kamar pun, bundo bantu doa dan mencoba untuk memerah ASI untukmu. Ya...dengan kondisi belum pernah menyusui langsung bundo coba untuk memerah asi. Hanya beberapa tetes yang keluar. 2 jam kemudian mencoba mempumping dengan bantuan breastpump. Hasilnya,,,kurang lebih sama, ASI hanya membasahi pantat botol dan pompanya saja. Tapi bundo keras kepala sayang, anak bundo butuh ASI ini. Tiap 2 jam bundo memerah, berapapun hasilnya ga peduli. Ayah mulai bergeser menjadi tidak tega dengan kondisi bundo. “udah bundo ga usah dipaksa gitu, bundo istirahat aja dulu.” Bundo menolak, bagaimana bundo bisa istirahat dan “doing nothing” sedangkan kamu di R. Perina sedang berjuang!!. Tiap kunjungan hasil perahan bundo kasihkan ke suster jaga disana.

1 hari berlalu,,,2 hari berlalu...semangat bundo mulai kendur. Pecahlah tangis bundo dipelukan ayah. Bagaimana Allah sangat menguji kita. Sedangkan kondisimu belum kelihatan membaik dengan signifikan, kadang membaik kadang memburuk. Hanya ayah yang selalu terlihat tenang untuk kita. Ayah yang selalu mendampingi kita dengan tenang. Ayah mengajak bundo untuk “lebih kenceng” lagi berdoa kepada Allah.

Hari ke 3 setelah kelahiranmu, bundo harus pulang nak. Kita harus berpisah. Tapi,,,Alhamdulillah ternyata keadaanmu membaik. Kamu ingin ikut pulang sama bundo ya nak? dan dokter spesialis anak disana bilang Insya Allah besoknya kamu dibolehkan pulang, karena saat itu tinggal menghabiskan dosis antibiotik. Bundo meminta pihak RS untuk bisa pulang sesore mungkin sehingga bisa lama berada didekatmu. ASI mulai tidak mencukupi kebutuhanmu. Pihak RS akan memberikan susuformula dengan persetujuan dari kami orangtuamu dan pembelian susu di sediakan oleh kami. Ada rasa ketakutan kamu tidak akan menyukai ASI kemballi jika sudah mencicipi susu itu. Tapi dengan kondisi saat ini, bundo akhirnya menyetujui pemberian susu itu. Susu itu akan diberikan saat bundo pulang ke rumah dan tidak bisa memberikan ASIP.

Kemudian bundo pulang tanpa kamu digendongan bundo. Sedih...?kecewa,,,? sudah pasti tapi tetap optimis kalau besok pagi kita bisa kembali bertemu dan pulang kerumah sama-sama. Esoknya pagi2 sekali bundo sudah“nongkrong” di RS tepatnya R. Perina, dan menunggu kedatangan dokter untukpemberian ijin kepulanganmu.

Dokter datang, dan mengijinkan kepulanganmu. Kamu keluar dari Incubator. Untuk pertama kalinya bundo menggendongmu, memelukmu, menciummu. Setelah menunggu 3 hari sayang, akhirnya kita dipersatukan. Bundo langsung menyusuimu, pertama kali, sensasi itu datang, hormon oksitoksin (hormon cinta) yang membuat kita makin mesra. Kita pulang bersama. Bundo, ayah, dan Maleec. 

Setahun berlalu, kamu tumbuh menjadi anak yang luar biasa. Bundo mungkin kurang berhasil dalam “gentlebirth”(karena belum terlalu paham juga saat itu). Tapi bundo usahakan pada “gentleparenting”. Pemberian ASI ekslusif 6 bulan dan dilanjutkan sampai sekarang dan Insya Allah sampai 2 tahun, juga MPASI Homemade yang bundo siapkan sendiri untukmu. Setahun ini bundo jadi pejuang ASI. Breastpump, coolerbag, icegel, botol2 asi adalah teman2 yang wajib dibawa saatbundo harus meninggalkanmu kerja. Karena kondisi kerja bundo yang sering mobile, hingga pumping bukan hanya dikantor bundo, kadang di kantor orang lain, di Musholla, Mesjid, bahkan distasiun jadi langganan ruang untuk pumping bundo.

Sekarang kamu sudah lulus S2 ASI. Selamat ya sayang. Terimakasih untuk memilih bundo dan ayah dalam belajar bersamamu. Ayah dan bundo sebagai orang tua, dan kamu sebagai buah hati kami. Tumbuhlah menjadi anak yang sholeh dan bisa menjadi “Al Mulk (Maleec) = Penguasa”dalam takwa. Penguasa dalam  agama, pengetahuan, keluarga, dan lingkungan. Bundo sayang Maleec karena Allah. We always love U, Maleec Abrisam.

NB : Trimakasih untuk ayah, semuatidak akan sama jika tanpamu. Love U My Ever After. :*